Kisah Inspiratif Paul Arjanto: Mengejar Impian Menjadi Seorang Doktor

Di tengah riuhnya perjalanan hidup, terdapat sebuah kisah yang memancar cahaya harapan dan keberanian. Ini adalah kisah inspiratif Paul Arjanto Liesay, seorang ayah yang berusia 35 tahun, yang kini berhasil mendapatkan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Pendidikan. Dikenal sebagai sosok yang hangat dan akrab, Paul telah menapaki perjalanan pendidikan yang memikat, membawa langkahnya dari keindahan Pulau Maluku hingga ke pusat pendidikan tinggi di Malang, Jawa Timur.

Paul bukanlah sosok biasa. Ia telah menelusuri berbagai bidang pendidikan, menemukan panggilan dan minatnya dalam Manajemen Pendidikan. Melalui perjalanan panjangnya, Paul memilih bergabung dengan Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pilihan ini tidaklah mudah, namun Paul memilih dengan tekad yang teguh, siap menghadapi segala tantangan yang menghampirinya.

Latar belakang pendidikan Paul membawa kita melintasi jarak dari keindahan Pulau Maluku hingga ke pusat pendidikan tinggi di Malang, Jawa Timur. Dengan penuh semangat, ia memilih Program Kebutuhan di Universitas yang memiliki Program S1, S2, dan S3 Administrasi atau Manajemen Pendidikan. Langkah ini tidak hanya menandai awal perjalanan akademiknya, tetapi juga menunjukkan keteguhan hatinya dalam mengejar impian dan menghadapi tantangan.

Dalam kisah inspiratif ini, kita akan melihat bagaimana Paul mengatasi rintangan, menemukan inspirasi, dan meraih kesuksesan dalam perjalanannya menuju gelar Doktor. Melalui dedikasi, kerja keras, dan ketekunan, Paul Arjanto Liesay telah menjadi simbol harapan bagi mereka yang berani bermimpi dan berjuang untuk mewujudkannya. Mari kita simak hasil wawancara bersama Dr. Paul Arjanto, M.Pd.

Apa yang menjadi motivasi utama Bapak untuk mengejar gelar doktoral di Universitas Negeri Malang?
Sebagai dosen tentu untuk mencapai jabatan fungsional tertinggi harus memperoleh gelar doktor, serta menjadi kebaggaan keluarga orangtua, istri dan anak2.

Bagaimana Bapak mengatasi tantangan terbesar dalam perjalanan Bapak menuju gelar doktoral tersebut?
Tantangan mengatur waktu antara studi dan mengurus keluarga (3 anak) dengan cara membuat skala prioritas yg ketat agar semua dapat mendapat porsi waktu yg memadai.

Apa momen paling membingungkan dan bagaimana Bapak mengatasinya selama Bapak menyelesaikan studi doktoral Bapak?
Mungkin krn backgroud saya dari S2 Bimbingan dan Konseling maka butuh penyesuaian, oleh karena itu kurang lebih ada 5 mata kuliah matrikulasi yang sangat membantu saya dlm memahami ilmu manajemen pendidikan.

Apa yang menjadi sumber inspirasi Bapak selama masa-masa sulit dalam menyelesaikan pendidikan doktoral?
Inspirasi dari Istri, anak dan orang tua serta dosen Promotor yang selalu memberikan motivasi dlm penyelesaian studi.

Apa yang Bapak anggap sebagai pencapaian terbesar Bapak dalam menyelesaikan gelar doktoral, dan mengapa itu begitu penting bagi Bapak?
Saya bersyukur bisa mengikuti 2 conference internasional yakni International Conference on Research in Education and Science (ICRES) di Cappadocia, Turki dan Frontiers in Education (FIE) Conference di Texas, USA.

Bagaimana Bapak menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi, akademik, dan profesional selama Bapak mengejar gelar doktoral?
Disini skala prioritas menjadi penting ya, kita harus bisa membagi porsi masing-masing secara proporsional sehingga tidak ada yg tertinggal atau terbengkalai.

Apakah ada orang atau pengalaman tertentu yang memberikan dampak besar terhadap perjalanan pendidikan Bapak di Universitas Negeri Malang?
Dari pada Pembimbing Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd (Promotor), Prof. Dr. Adi Atmoko, M.Si., M.Pd. (Co-PromotorI) dan Prof. Dr. Asep Sunandar, S.Pd, M.AP. (Co-Promotor II) yang senantiasa memberikan motivasi, arahan dan saran konstruktif dlm proses penelitian disertasi, serta dukungan dan doa dari Keluarga Orangtua, Istri dan anak2.

Apa satu pelajaran paling berharga yang Bapak pelajari selama menyelesaikan gelar doktoral, dan bagaimana Bapak berencana untuk menerapkannya di masa depan?
Pelajaran berharga dari bagaimana riset/penelitian dipublikasi secara baik dan benar, terkhusus pada Jurnal Internasional Bereputasi yang tentu membutuhkan perjuangan dab proses belajar agar dapat mempublikasikan dan mendeseminasikan hasil-hasil riset secara luas.

Bagaimana Bapak merasa setelah mengetahui bahwa Bapak akan lulus dari ujian tertutup dan segera menyelesaikan pendidikan doktoral Bapak?
Semua saya serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, saya sudah bekerja dan berusaha semaksimal mungkin dgn memberikan yang terbaik.

Apa nasihat atau kata-kata bijak yang ingin Bapak bagikan kepada orang-orang yang juga sedang mengejar impian akademik mereka?
“Jangan pernah mengatakan tidak bisa, teruslah belajar, karena pada hakekatnya kita semua berasal dari titik yang sama yaitu 0”

1 thought on “Kisah Inspiratif Paul Arjanto: Mengejar Impian Menjadi Seorang Doktor”

Leave a Reply to Lutfi A Cancel Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top